|
Museum Wajakensis Tulungagung |
Pernah mengetahui kata
Wajakensis? Atau lebih lengkapnya Homo Wajakensis? Saya yakin kalian semua
pernah mengetahuinya saat pelajaran sejarah. Homo Wajakensis merupakan manusia
purba golongan Homo sapiens (manusia cerdas) yang pernah hidup di Indonesia. Ditemukan
oleh Van Riestchoten pada tahun 1889 di desa Wajak, kabupaten Tulungagung.
Fosil ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh Eugene Dubois. Ternyata kampung
halaman saya merupakan salah satu wilayah peradaban masa lalu nih, hehehe.
Karena nama Homo Wajakensis sudah
mendunia, maka nama tersebut dijadikan nama museum daerah kabupaten
Tulungagung. Terletak di kecamatan Boyolangu, sekitar 4 kilometer arah selatan
dari alun – alun Tulungagung. Lokasinya cukup sunyi karena berada di areal
persawahan, namun hal tersebut yang membuat nyaman bila berkunjung ke museum
Wajakensis Tulungagung.
Di depan pintu masuk menghadap
arah utara, sudah berjejer beberapa prasasti berukuran besar. Namun sayang
sekali walaupun bentuk prasasti tersebut masih utuh, tulisan yang terpahat pada
prasasti sudah tidak bisa dibaca karena rusak. Hanya ada satu prasasti saja
yang masih bisa terbaca tulisannya, tetapi juga hanya sebagian saja.
 |
Jejeran prasasti |
 |
Permukaan yang rusak sehingga tulisan juga musnah |
 |
Ada lambang tertentu pada prasasti |
 |
Salah satu prasasti dengan tulisan yang masih bisa dibaca |
Selain itu saya juga melihat meja
batu di dekat pintu masuk museum. Ada garis – garis yang tentu sebenarnya mempunyai
maksud dalam pembuatannya.
Pada ruangan dalam museum
Wajakensis banyak sekali koleksi benda purbakala. Benda – benda tersebut
kebanyakan berupa arca yang ditemukan di kabupaten Tulungagung.
Di sisi samping barat musem
bagian luar saya juga menemukan beberapa arca dan meja batu kuno. Sungguh
sangat indah dan begitu detail arca tersebut. Walaupun saya juga agak bingung
karena dari jenis batu yang arca tersebut tergolong batu yang cukup baru dan
bertuliskan huruf Cina.
 |
Beberapa arca di sebelah barang gedung |
 |
Arca singa bertuliskan huruf Cina |
 |
Bagaimana ya cara memahat bentuk mulut? Detail bentuk giginya |
 |
Lengkap dengan bentuk ekor |
Dan ada satu benda yang membuat
saya sangat mengaguminya. Sebuah meja batu kecil berukuran sekitar panjang 60
cm dan lebar 30 cm. Bentuknya sangat rapi, simetris, permukaannya rata dan
halus, serta ada ukiran di bagian bawah. Saya sempat membayangkan bagaimana
cara membuatnya pada waktu itu dan dengan alat seperti apa. Batu andhesit yang
sangat keras seperti itu, diolah oleh tangan terampil dan hasil dari desain
seni masa lampau. Sangat indah!
 |
Permukaan sangat halus |
 |
Simetris, bentuk siku sangat rinci |
Namun sayang sekali, saya juga
mendapatkan hal yang sangat miris. Entah mungkin karena ruang museum Wajakensis Tulungagung yang terbatas, ada beberapa benda purbakala lain yang ditempatkan tidak
semestinya. Diletakkan saja di belakang bangunan museum dan dijadikan alas
untuk menumpuk barang – barang yang lain. Semoga pihak pengelola museum
Wajakensis lebih memperhatikan hal ini!
Saya lihat bangunan baru yang
merupakan perluasan dari museum Wajakensis sudah jadi, tetapi masih kosong
belum diisi. Memang menurut saya museum Wajakensis ini ukurannya lebih mirip
dengan rumah petak. Terlalu sempit dengan koleksi benda purbakala yang cukup
banyak.
Bagi kalian yang ingin berkunjung
ke museum Wajakensis di Tulungagung silahkan berkunjung ya. Lokasinya sangat
mudah dijangkau.
 |
Jam Kunjung Museum Wajakensis Tulungagung |
Semoga kita selalu menjaga, melestarikan, dan tidak lupa
dengan cagar budaya serta sejarah dari leluhur kita.
BalasHapusBlog yang keren sekali. Butuh motor hubungi kami. Bisa wa kami 081 559 795 985