Sabtu, 08 Oktober 2016


Ranugumbolo Tulungagung
Selamat datang  di Ranugumbolo

Berwisata merupakan hal yang menjadi trending topik di kalangan masyarakat akhir – akhir ini. Sebagai cara untuk menyegarkan pikiran dari rutinitas pekerjaan selama sepekan, maupun untuk memanjakan waktu bersama sahabat maupun keluarga dengan pergi ke tempat wisata. Tayangan televisi yang menyajikan dunia travelling dan adventure ditambah lagi perkembangan informasi melalui media sosial membuat tempat wisata kian ramai dikunjungi. Terutama tempat yang masih alami, yang menyajikan pemandangan menakjubkan.

Begitu pula yang terjadi di kota kecil tempat saya tinggal, di Tulungagung. Ada tempat wisata baru yang menjadi incaran penikmat wisata. Terletak di kecamatan Pagerwojo, bersebelahan dengan waduk Wonorejo. Wisata Ranugumbolo namanya. Nama yang unik dan mirip dengan Ranukumbolo di Lumajang. Namun, kemiripan nama tersebut tidak ada hubungannya satu dengan yang lainnya. Nama Ranugumbolo berkembang dari caption yang ditulis oleh pengguna media sosial, dan akhirnya nama itu melekat kuat pada tempat ini. Untuk menuju ke tempat ini juga sangat mudah, karena rute Ranugumbolo searah dengan waduk Wonorejo. Sudah ada petunjuk jalan untuk ke Ranugumbolo sebelum anda sampai ke waduk wonorejo.

Lokasi Ranugumbolo

Awalnya tempat ini merupakan tempat favorit bagi para pemancing. Puluhan pemancing memadati area ini sepanjang hari. Lahan ini merupakan milik Perhutani, dan digunakan oleh warga sekitar untuk bercocok tanam apabila air waduk Wonorejo surut disaat musim kemarau. Satu orang memotret dan diunggah ke media sosial, dan pengguna media sosial lainnya berkunjung ke tempat yang sama dan mengunggah hasil fotonya ke media sosial. Begitu seterusnya dan akhirnya tempat ini ramai dikunjungi oleh masyarakat.


Pertengahan tahun 2016 saya berkunjung ke Ranugumbolo saya melihat banyak pekerja. Mereka membuat gubuk dan tempat duduk dari bambu. Karena penasaran saya pun bertanya kepada orang yang ada di sekitar. Ternyata tempat ini akan dijadikan kawasan wisata rintisan oleh Perhutani KPH Kediri bekerja sama dengan LMDH RIMBA JAYA desa Mulyosari, kecamatan Pagerwojo, kabupaten Tulungagung. Gagasan untuk membuat wisata rintisan Ranugumbolo sendiri sudah ada sejak setahun sebelumnya.

Tiket masuk Ranugumbolo

Tiket masuk sudah termasuk dengan parkir kendaraan, dan juga sudah termasuk asuransi kecelakaannya juga lho. 

Perlahan tapi pasti kawasan ini memulai pembangunan yang bisa memanjakan pengunjung. Mulai dari pembuatan jalan setapak, membangun tempat duduk pengunjung, membuat gubuk, rumah pohon, hingga yang terbaru ada wahana perahu yang bisa digunakan untuk berkeliling di sekitar Ranugumbolo Tulungagung. Wahh, asiiknyaaaa...

Ranugumbolo Tulungagung

Ranugumbolo Tulungagung







Jangan lewatkan juga ke Ranugumbolo saat sore hari, karena kebetulan view Ranugumbolo yang menghadap ke arah barat.

Ranugumbolo Tulungagung

Ranugumbolo Tulungagung



Ke depan juga dibagun fasilitas pendukung lainnya, yaitu toilet dan mushola. Wahh memang keren banget ya pengelolaannya. Dan tentunya kita sebagai pengunjung juga harus memperhatikan kebersihan ya, supaya tetap asri.



Ranugumbolo

Read More

Kamis, 29 September 2016

Hampir setiap orang mempunyai hobi dalam kesehariannya. Mulai hobi travelling, olahraga, maupun hobi dalam dunia seni. Termasuk saya sendiri yang juga menekuni hobi fotografi. Sampai tulisan ini saya buat, kurang lebih sudah tiga tahun lamanya saya berkecimpung dalam hobi yang berkaitan dengan kamera ini. Berawal saat bepergian dan mengabadikan pemandangan dengan menggunakan kamera ponsel, lama kelamaan saya makin tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai fotografi.


Karena masih pemula (sampai saat ini juga :D ) saya  mempelajari fotografi secara otodidak dengan membaca artikel via google dan melihat karya foto milik orang lain. Hasil foto saya upload di sosial media Instagram. Beberapa genre fotografi saya coba (landscape, human interest, makro, still life, portrait J ), dan lebih suka dalam memotret landscape. Jadilah saya seonggok landscaper, hehehe.


Mulai bosan dengan kamera ponsel saya mulai melirik kamera digital. Cukup lama mencari informasi mengenai kamera digital seperti apa yang saya perlukan (yang tentunya untuk hobi saja), akhirnya saya memperkuat hati dan perasaan (ciee..) untuk membeli kamera Nikon D3100 dengan lensa kit 18-55mm. Dengan resolusi 14,2 megapiksel, serta sensor CMOS DX-format kamera ini nyaman digenggam.






Sebenarnya sempat bingung memilih antara Nikon D3100 versus Canon 1200D, tetapi titik fokus Nikon D3100 yang lebih banyak (11 titik fokus) dibanding dengan Canon 1200D (9 titik fokus) maka si Nikon D3100 saya pilih. Karena merk kamera saya mirip nama orang, saya beri nama kamera saya “Niko”, hehehehe.




Dengan kemasan tas segitiga si Niko mulai menemani saya untuk mengabadikan pemandangan dan momen menarik yang bisa ditangkap. Seiring berjalannya waktu si Niko mendapat teman baru, antara lain : tripod, filter CPL, filter ND, dan filter GND. Berhubung sekedar hobi, aksesori kamera yang saya  beli juga bukan merk yang waw, dengan harga yang menguras isi dompet. Cukup yang murah – murah saja :D. 

Hobi Fotografi

Read More

Jumat, 06 Mei 2016

Pikiran anda penat, sumpek, atau bahkan mendekati strees? Hehe.. perlu ke tempat yang adem, tenang, dan gemericik suara air yang jatuh dari tempat yang lebih tinggi. Nahh air terjun dehh jawabannya. Ya, ada air terjun di Tulungagung namanya air terjun Alas Kandung. Lokasinya ada di desa Tanen, kecamatan Rejotangan.


Air Terjun Alas Kandung Tulungagung


Memang air terjun ini tidak begitu tinggi, mungkin sekitar 10 meter saja. Juga tidak terlalu luas karena memang dikelilingi pepohonan yang tinggi, sehingga kesan alami masih sangat terasa. Langsung saja ya jika ingin ke air terjun Alas Kandung rute dari pusat kota Tulungagung silahkan menuju ke arah timur sampai pasar Ngunut. Dari pertigaan pasar Ngunut belok kanan (selatan) lurus saja sampai ketemu pertigaan pasar Panjer, dan langsung saja belok kiri (timur). Setelah 30 meter (ada Alfamart) ada pertigaan belok kanan (selatan). Setelah belok kanan ikuti jalan salan sampai ketemu pertigaan lagi lalu belok kiri (timur). Nah dari sini ikuti jaan saja ke arah timur sekitar 10 km sampai ketemu balai desa Tanen. Sekitar 20 meter dari balai desa Tanen ada perempatan belok kanan saja. Dari sini hanya satu jalur saja sampai nanti masuk ke kawasan hutan dan anda akan sampai di air terjun Alas Kandung.

Air Terjun Alas Kandung Tulungagung


Air Terjun Alas Kandung Tulungagung



Jika hari libur, kawasan ini sangat ramai oleh pengunjung. Namun berhubung saya ke sini pas hari kerja jadi ya tempat ini sepi serasa milik pribadi hehehe.

Silahkan berkunjung ke air terjun Alas Kandung, dan tetap jaga kebersihan yaa . . .

Owh ya, seiring berjalannya waktu sarana wisata ini terus dikembangkan lho. Penambahan spot untuk menikmati pemandangan yang ada dan warung makan.





Air Terjun Alas Kandung

Read More

Sabtu, 06 Februari 2016


Anda suka memotret? Atau sedang belajar mengenai fotografi? Sama kok seperti saya, hehehe. Untuk mendapatkan hasil foto yang lebih menarik, dalam tahap akhir fotografer akan mengolah foto tersebut menggunakan software tertentu. Yang sering digunakan adalah Adobe Photoshop dan Adobe Lightroom. Bagaimana dengan saya yang masih pemula ini? Hhm, saya juga selalu mengolah foto hasil jepretan saya, awalnya saya menggunakan Photoshop. Tetapi setelah mengenal Lightroom saya pun jatuh hati dan berpaling menggunakan Lightroom. Mengapa saya berpaling menggunakan Lightroom?





Menurut saya menggunakan Lightroom lebih mudah dalam menggunakan fitur yang ada di dalamnya untuk mengolah foto. Di sebelah kanan sudah tersedia panel – panel untuk olah foto. Baik itu kontras, ekposur, gradasi, hightlight, shadow, dsb. Tinggal klik saja gitu, berbeda dengan Photoshop yang menurut saya agak ribet bermain dengan layer – layernya itu. Selain itu juga ada “clone tool” yang sangat membantu untuk menghilangkan atau menutup objek – objek yang tidak kita inginkan ada pada foto kita. Misal foto hasil jepretan kita ternyata ada penampakan sampah botol minuman, atau spot – spot karena debu yang menempel pada lensa kamera. Dengan clone tool ini kita sangat terbantu untuk menghilangkan objek yang tidakdiinginkan pada foto.






Kemudahan tersebut yang sampai saat ini saya tetap menggunakan Lightroom untuk mengolah foto, karena saya juga bukan tipe orang yang suka memanipulasi foto, ataupun digital imaging. Kalau itu Photoshop yang harus kita gunakan.


Lalu apa ada tips – tips tertentu supaya foto yang kita olah bisa lebih menarik? Owhh yaa.. tentu dong. Saya pun juga browsing mengenai itu, terutama video tutorialnya. Dan akhirnya saya menemukan satu orang fotografer yang sering mengupload video tutorialnya tentang editing foto. Dia fotografer asal Perancis benama Serge Ramelli. Saya sangat suka dengan tutorialnya, bahkan saya sudah mendownload lebih dari 40 video tutorial yang dia buat tentang Lightroom editing. Karena cara penyampaiannya yang tidak monoton dan energik dalam memberi arahan membuat saya yang meyimaknya lebih mudah untuk memahami.


Nahh... tutorial di bawah ini salah satu contohnya yang juga memberi pemahaman/ fungsi beberapa tools lightroom dan penggunaannya.






Ini tutorialnya yang lain gan . . .








Sekian dulu ya bagi – bagi informasinya. Kita sambung lain waktu. Dadaaaaahhh....



Edit Foto Menggunakan Lightroom

Read More

Selasa, 12 Januari 2016




Indonesia adalah negara agraris. Begitulah kiranya yang saya pernah tahu dan disampaikan oleh guru waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Bahkan di era pak presiden Seoharto negara kita merupakan lumbung padi di Asia Tenggara. Dengan RePELITA nya (Rencana Pembangunan Lima Tahun), dan program KB dua anak cukup pada masa itu rakyat Indonesia tidak pernah kekurangan beras. Produksi dan konsumsi beras begitu stabil, tidak pernah minus bahkan mungkin surplus.


Rezim pak Soeharto runtuh, era reformasi dimulai dan gaung demokrasi disuarakan. Era baru, maka kebijakan pemerintah pun juga berbeda. Pertumbuhan penduduk begitu pesat, dan tentunya lahan pemukiman pun juga bertambah. Tahun 2014 dari data BPS jumlah penduduk Indonesia adalah 252 juta jiwa, dan semakin meningkat setiap tahunnya (lihat data pada tabel). Wowww . . . .




Dengan jumlah penduduk sedemikian besar maka banyak lahan pertanian yang harus rela untuk berubah fungsi, dibangun untuk perumahan. Bapak Achmad Suryana dari Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian menyampaikan di halaman Republika, pada tahun 2012 luas penguasaan lahan per petani sudah sempit, yaitu 0,22 hektar dan diperkirakan menjadi 0,18 hektar pada 2050. Bagaimana ya Indonesia ke depan? Menurut saya sangat luar biasa tantangannya terkait dengan ketahanan pangan nasional. Kebutuhan beras sebagai makanan pokok warga Indonesia sangat tinggi. Tingkat konsumsi beras perkapita/tahun sebesar 124,89 kg untuk penduduk dengan jumlah 250 juta jiwa, dengan nilai tersebut untuk tahun 2015 butuh 33,368 juta ton beras. Pada tahun 2015 jumlah produksi beras adalah 43,940 juta ton, surplus 10 juta ton beras.

Namun, saya menilai kontrol terhadap luas lahan pertanian tetap harus dilakukan. Di Tulungagung sendiri saya melihat cukup banyak lahan pertanian berubah fungsi. Menjadi gudang untuk toko besar, menjadi perkantoran dan menjadi rumah. Sayang sekali.






Foto di atas menunjukkan sedikit contoh berkurangnya lahan pertanian untuk mendirikan bangunan.


Semoga Indonesia tetap kembali berjaya sebagai negara agraris, kembali menjadi lumbung padi dengan teknologi tepat guna di bidang pertanian.


Sawah yang dijarah

Read More

Rabu, 16 Desember 2015

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pusat pemerintahan kabupaten Tulungagung dulunya tidak berada di pusat pemerintahan yang ada kini. Sebelumnya ibu kota Tulungagung bertempat di daerah Kalangbret dan diberi nama Kadipaten Ngrowo. Masih bisa kita lihat hingga kini bahwa kecamatan Kauman (eks Kalangbret) tak kalah ramai dengan pusat kota Tulungagung kini. Sejak saya lahir sampai saya usia 5 tahun saya tinggal di Kalangbret (rumah kakek), tidak jauh dari kantor kecamatan Kauman. Jadi lokasi yang kita bahas ini tentu punya makna sejarah tersendiri bagi saya. 

Perpindahan pusat pemerintahan terjadi sekitar 1906 Masehi. Pada masa Mataram Islam yaitu jaman Sri Pakubuwono I dan VOC tahun 1709 mengadakan perjanjian nama Kalangbret tetap digunakan sebagai ibukota Kadipaten Ngrowo. Begitu juga pada perjanjian Giyanti (1755) nama Kalangbret disebut salah satunya wilayah mancanegara (wilayah luar kekuasaan) kerajaan Yogyakarta. Kalangbret sebagai kadipaten mancanegara Mataram terbentuk sejak perjanjian Giyanti. Wilayah tersebut selanjutnya dijadikan ibu kota Kadipaten Ngrowo tahun 1750 – 1824 M, yakni mulai masa Mataram Islam hingga masa kolonial. Bupati pertama Kadipaten Ngrowo adalah Kyai Ngebehi Mangundirono. Nama Kalangbret telah dikenal sejak tahun 1255 M dalam prasasti Mula-Manurung dan disebut ulang dalam Nagara Kertagama dengan nama Kalangbret. Atas dasar tersebut kisah yang ada dalam Babad Tulungagung tentang asal Kalangbret dari Adipati Kalang yang tewas dalam kondisi tersembret-sembret oleh pangeran Lembu Peteng dimentahkan.                                                          

Sebelum bernama Kadipaten Ngrowo di wiayah Tulungagung sudah berdiri Katumenggunan Wajak, tepatnya pada pemerintahan Sultan Agung. Katumenggungan ini bertahan hingga terbentuknya Kadipaten Ngrowo dengan pusat pemerintahan di Wajak sejak perjanjian Giyanti. Ini terjadi antara tahun 1615-1709 M pada masa Mataram Islam dan masa kolonial. Saat masih terbentuk Katumenggunan yang menjadi Tumenggung adalah Senapati Mataram yang bernama Surontani. Tokoh yang sangat melegenda tersebut dimakamkan di Desa wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu.  Katumenggunan Wajak berakhir dengan berdirinya Kabupaten Ngrowo yang beribukota di Kalangbret. Nama “Rowo” telah dikenal sejak tahun 1194 M (Prasasti Kemulan) dan disebut uang dalam Nagara Kertagama (1365 M). Nama ini kemudian berubah menjadi “Ngrowo”.


Saat tampuk kepemimpinan berada di tangan K.R.T. Pringgodiningrat, bupati Ngrowo ke IV ibu kota Kadipaten dipindahkan ke sebelah timur sungai Ngrowo yaitu pada lokasi yang sekarang ini. Selanjutnya kota baru ini dijadikan pusat pemerintahan atau ibu kota Kadipaten Ngrowo mulai masa kolonial sampai sekarang ini. Pada tahun 1800-an nama Toeloengagoeng dipakai sebagai nama salah satu distrik dalam wilayah Kadipaten Ngrowo. Nama Kadipaten Ngrowo berubah menjadi Kabupaten Tulungagung pada tanggal 1 April 1901 yaitu pada masa pemerintahan Bupati Ngrowo ke 11, R.T. Partowijoyo. 


Aula depan kantor kecamatan Kauman


Hingga kini di kawasan Kalangbret (kini kecamatan Kauman), masih banyak ditemukan bangunan sisa pemerintahan yang beralih fungsi. Pendopo bekas Kadipaten kini berubah menjadi kantor kecamatan Kauman. Tepat di depan kantor kecamatan Kauman, ada sebuah tanah lapang yang dulu merupakan alun – alun kadipaten Ngrowo. Akhirnya tanah lapang ini digunakan sebagai lapangan sepak bola juga. Saya masih ingat dulu waktu saya masih kecil, pemain timnas sepakbola era 90an Aji Santoso pernah bermain bola di sini saat jeda kompetisi Galatama. Tidak jarang juga lapangan ini digunakan untuk menggelar pasar malam/ pasar rakyat pada waktu tertentu.

Tanah lapang depan kantor kecamatan Kauman




Tidak jauh dari tanah lapang tersebut juga terdapat masjid (ada di utara kantor kecamatan Kauman), pasar, sekolah, dan puskesmas. Untuk pasar sendiri dikenal dengan nama pasar Kliwon. Jadi setiap pasaran Kliwon dalam kalender Jawa, maka pasar ini akan sangat ramai sekali orang berdagang di pasar dan lapangan tersebut.



Berdasarkan tata letak bangunan di kecamatan Kauman yang ada sekarang, sangat menunjukkan tata letak model kota tradisional. Hal ini semakin menunjukkan bahwa kecamatan Kauman (Kalangbret) dulunya merupakan pusat pemerintahan.







Sumber referensi sejarah dari saudari Ardhananeswari Pradipta.

Kalangbret, bekas pusat pemerintahan Tulungagung

Read More

Selasa, 15 Desember 2015

Setiap kota pasti mempunyai ciri khas, atau satu tempat yang menarik. Tak  terkecuali di kota saya, Tulungagung. Di Kecamatan Kauman, tepatnya desa Bolorejo ada satu tempat yang dikenal dengan gunung Mbolo. Sebuah bukit yang merupakan areal pemakaman etnis Tionghoa. Lokasinya berada pada jalur Tulungagung – Treggalek.



Dulu areal pemakaman ini digunakan sebagai daerah prostitusi, cukup miris memang. Namun sudah ditutup dan tidak ada aktifitas tersebut lagi di gunung Mbolo. Karena penasaran dengan tempat tersebut, dan ditambah lagi sudah tidak ada aktifitas prostitusi lagi di gunung Mbolo, maka saya pun tidak ragu untuk mengunjungi tempat tersebut untuk melihat seperti apa kondisinya saat ini.


Akhirnya pada suatu sore saya pun pergi ke sana. Saat memasuki pintu/ gerbang masuk cukup sepi. Saya pun juga agak ragu untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi sudah sampai lokasi, saya lanjutkan saja perjalanan saya untuk naik jalanan aspal yang menanjak. Tetapi rasa canggung  dan ragu itu pun sirna, karena di satu titik yang cukup lapang ternyata cukup banyak sepeda motor diparkir di sana.


Gerbang masuk


Saya pun memarkir sepeda motor saya, dan mencoba berkeliling di beberapa sudut area pemakaman. Areal pemakaman yang biasanya terkesan angker menjadi hilang. Banyak warga yang sekedar jalan – jalan, dan jogging.


Warga yang sedang jogging


Makam yang ada cukup bervariasi, ada yang sederhana, ada yang mewah, dan ada pula yang rusak tidak terawat.







Semakin ke atas pemandangan semakin menarik, terlebih lagi saat sore hari sembari menikmati sang surya akan tenggelam dari khatulistiwa.


Makan yang di puncak


Gunung Mbolo

Read More